Bukit Larut jadi saksinya

Hampir 3 jam saya terlelap dalam perjalanan dari Bandar Tasek Selatan menuju Sungai Petani. Sesekali kepala terhangguk ke kiri lalu berlaga tingkap keretapi.

Kemudian terjaga lalu bangun meminta izin pakcik berbangsa cina disebelah saya untuk keluar ke kantin.

Saya perasan jari beliau dari tadi tak henti memusing gelang sambungan manik-manik kecil yang kelihatan seperti tasbih.

Tiba-tiba..

Gedegang!!!

Cuainya saya. Baru bangun keluar, terlanggar botol airnya lalu jatuh bergolek di lantai. Mujur penutupnya rapat. Tiada air yang keluar.

Entah berapa kali saya ulang kata maaf.
Malu dan bersalah.
Mungkin saiz badan agak besar, maka berlanggar semua. Hm.

Kemudian saya bergerak ke kantin.

Duduk seorang diri, menghirup teh tarik panas sambil memandang ke luar tingkap. Terlihat dari jauh Bukit Larut yang indah dilitupi awan.

Betapa banyaknya kenangan lama disitu.

Rasanya, disitu antara fasa dalam kehidupan yang mana perasaan inferioriti begitu menebal. Lemah dan tidak yakin diri.

Hm,

Biarlah Bukit Larut dan hujannya menjadi saksi.

Bukit Larut dari kejauhan


.
.
.
Saya gapai semula telefon lalu mengisi ruang nota di aplikasi Google Keep. Alhamdulillah berhasil menyiapkan tugas pertama. 30 tajuk cerita.
.
.
.
Kawan-kawan,
Apa yang saya tahu, kita semua ini unik. Punya kelebihan dan kekurangan.
Apapun kita, berusahalah jadi manusia yang bermanfaat.

Najwa Hamidi
Sedang menyiapkan buku pertama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s